Cerepen Karya : Lisma Riantika
BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
SEBUAH PERWUJUDAN BARU
Ini
malam sabtu.Hari yang baik untuk memulai sesuatu ,kudapat dari salah satu kitab
yang pernah kupelajari.Aku santri yang akan menulis kisahku untuk suatu hari
kubaca nanti walau pun mungkin aku akan lelah,tapi akan kunikmati setiap
katanya.
Namaku
Jihan.Jihan Qoribatul Jannah.Kawan-kawanku sering memanggilku dengan
singkatannya,JQJ.Karena terlalu panjang katanya.Ya,aku tahu.Itu karena bunda
sangat menyukai nama-nama seperti itu.Dan aku yang saat itu masih bayi dalam
pangkuannya tidak bisa menolak,karena kalau aku protes aku takut bunda akan
melemparku ke langit dan menghilang dimakan UFO.Mungkin.
Aku masih
umur lima tahun saat aku membaca buku ensklopedia yang tipis tentang
lumba-lumba dan tahu bahwa lumba-lumba sama sepertiku.Bernafas menggunakan
paru-paru.Dan saat itu aku juga tahu kenapa lumba-lumba sering melompat ke
udara,ternyata dia kehabisan nafas,pikirku iba.Dan aku bicara tentang maksudku
yang ingin memelihara seluruh lumba-lumba kepada nenekku,katanya mustahil.Aku
kecewa sedangkan nenekku tertawa.Ya sudah.
Aku anak
yang sangat pemalu untuk memperlihatkan air mataku walau saat itu aku masih
berumur tiga tahun.Aku tak suka ada yang melihat air mataku selain aku yang
berada di kamar dan behadapan dengan kaca hanya untuk melihat ekspresi
wajahku.Jelek ternyata.
Aku lahir
di Bandung di Buah Batu.Dari seorang wanita yang dipanggil bunda oleh
anaknya.Dia lulusan ITB,jurusan sastra dan bahasa.Ayahnya seorang guru SD dan
guru ngaji.Sejak nikah dengan ayah,bunda diboyong ke daerah Buah Batu tempat
kelahiran ayah juga anak anaknya ini.Sekarang dia adalah seorang kepala sekolah
di salah satu SD yang ada di Bandung.Awalnya dia hanya seorang guru biasa.
Sekarang
tentang ayahku,dia asli Bandung.Dia seorang dosen di ITB.Ayahku yang dianggap
dosen killer bisa berubah menjadi seorang
pria manis juga romantis.Kupikir aku tahu apa sebabnya,mungkin karena
dia yang selalu tegas ,tapi sebenarnya dia orang yang enak diajak bicara.Aku
sangat mengagumi dia yang dapat berkomunikasi dalam berbagai suasana dengan
anaknya.Ayah yang cerdas cermat.Pernah saat aku menangis karena masalah
sepele,yang waktu itu entah kenapa aku mulai menangis di depan kaca kamarku dan
ayahku menghampiriku ke kamar lalu duduk di sampingku.Aku langsung
menelungkupkan diri.
‘’Jihan.Ayah mau dan boleh masuk
kan?’’.Itu cara ayah memastikan bahwa ayah akan masuk.Tentu saja.
‘’Iyaaaa’’ kataku setengah berteriak
di balik selimut.
‘’Kenapa nak?’’tanyanya.
‘’Enggak’’ kujawab
‘’Menangis tak menyelesaikan
apapun’’
‘’Siapa yang nangis?’’aku mengelak.Kuhapus diam-diam air mataku.
‘’Ya kamu,masa ayah udah tua nangis
,malu’’
‘’Enggak nangis kok’’
‘’Enggak nangis kok ingusan?’’
Aku langsung berhenti menarik
ingusku dengan mencubit hidungku.Ayah
diam.Aku diam. Setelah beberapa menit,aku mulai kewalahan menahannya,aku
langsung duduk dan menatap ayah yang
pasti merasa menang.Aku tahu ayah.
Waktu aku tinggal di Bekasi cukup lama dan karenanya aku susah melafalkan
bahasa sunda yang baik dan benar.Karena urusan pekerjaan.Hari itu bunda sibuk
masak-masak untuk hari raya idul fitri dan aku sedang tidur siang lalu saat
terbangun ayah,bunda ,dan bi Ijah sudah tidak ada di rumah.Aku yang waku itu
masih anak-anak dan sendirian di rumah menangis sejadi-jadinya karena gelisah
dan takut mereka tidak kembali lagi.Beberapa lama kemudian mereka datang dengan
membawa dua kantong besar belanjaan.Bunda mendekatiku dan duduk di
sampingku.Aku bilang pada bunda untuk jangan meninggalkanku lagi dan harus
tetap menjagaku hingga aku dewasa dan mempunyai anak dari seseorang yang aku
cintai.Aku dan bunda saling memeluk penuh kasih dan sayang.
Hari raya telah tiba dan kami
sekeluarga sedang bersiap untuk berangkat ke masjid besar tempat biasa
orang-orang sholat idul fitri,tiba-tiba kakakku yang berjenis perempuan mencium tangan bunda dan ayah yang berjenis
laki laki.Sontak aku kaget.
‘’Ih kak,batal dong salim ke ayah’’
kataku
‘’Enggak dong,kan ayah ke anak’’. OKe
dan aku baru tahu.
Itulah ayahku yang aku kagumi,dan
suatu hari nanti aku ingin yang menjadi suamiku adalah yang sepertinya,bahkan
lebih,lebih ,lebih.
Aku hampir mirip dengan anak cowok
menurut teman-temanku dan juga orang yang mengenalku.Temanku lebih banyak
cowoknya dari pada deweknya,Karen menurutku berteman dengan anak cowok tidak
akan marah selagi itu hanya candaan,tidak seperti anak cewek yang kalau salah
sedikit pasti marah,ngambek.Kan ngeselin.Tapi aku punya hobi yang dianggap
kurang pantas dengan sikapku yang begini,katanya.Yaitu baca komik dan membuat
puisi tentang apa-apa saja yang ada di otakku.Pernah aku kepergok oleh Toni dan
dia mengejekku,tapi itu tak membuatku membuang hobiku itu.Biarkan saja,tak akan
ku ambil pusing.
Hari itu aku sekolah.Yah,seperti hari
biasanya kecuali ada tanggal merah di dalam kalender yang bergambarkan para
artis yang repot dengan emasnya,karena memang kalendernya daru toko emas.Jika
para guru bilang’’besok belajar di rumah’’itu artinya kami akan bebas dari rasa
kantuk yang menyerang hingga membuat kami seperti orang bodoh,sedangkan aku
hanya menyoretkan apa-apa saja yang ada di otakku ke halaman belakang buku
tanpa ada pahlawan kesiangan yang akan menolong.Kukira aku ke sekolah lebih ingin
mendapat uang jajan lebih dari pada hari libur dan bertemu dengan teman-temanku
lalu tertawa bersama.
Aku kelas enam.Kelasku berada di
paling pojok dan berhadapan langsung dengan lapang.Karena sekolahku memang
leter-U.Hari itu ada pelajaran olahraga di jam awal yang merupakan salah satu
pelajaran yang aku suka selain bahasa inggris dan bahasa indonesia,sedangkan
menurut teman-teman itu adalah dua pelajaran yang menyebalkan,apa lagi inggris
yang susah dibaca karena kita ini anak Indonesia,katanya.Tapi saat kutanya
kenapa tidak suka pelajarannya,capek baca katanya.Kan plin-plan.Kami
berolahraga seadanya karena gurunya tidak masuk waktu itu.Ada keperluan.Aku dan
teman-teman lelakiku bermain bola seperti biasa,dan yang perempuan hanya
menonton dan sesekali meneriaki nama idolanya,hehe.Sesaat terbesit
untuk mengajak para
anak perempuan tanding melawan anak lelaki dan yah,mereka mau setelah
bujuk rayu maut Wahyu yang berbadan kecil dikeluarkan habis-habisan.Aku masuk
tim anak perempuan karena katanya tidak adil jika aku juga di sana,oke
deh.Kebiasaan anak perempuan saat bermain bola adalah tidak menggunakan otaknya
untuk menyerang melainkan menggunakan otonya dan lumayan kalau tendangannya
tepat sasaran,tapi yang mereka tending hanya malah angin belaka.Pertandingan
berakhir,dan regu kami yang kalah telak meski aku berusaha keras.Walau seorang
diri.
Saat itu masih jam pelajaran
pertama ketika kami semua akan menuju kelas sedangkan anak perempuan jajan dulu
di kantin.Aku mengajukan sebuah pertandingan baru pada anak lelaki,karena
kurasa bergabung dengan anak cowok itu lebih bertenaga ,enjoy,dan tak cepat
lelah.
‘’Lomba lari ke kelas kuy’’ ajakku.
‘’Tapi kalau menang pasti ada
hadiahnya dong, ya gak?’’ tanya Daffa.
‘’Mmmm,apa ya.Cinta aja deh.Ha ha
ha’’ aku ketawa.Daffa ketawa.Wahyu ketawa,yang lain juga.
Tanpa aba-aba aku lari mendahului mereka agar aku tidak harus memberi
cinta yang aku tak tahu seperti apa.Sebenarnya aku selalu menang lomba lari
dengan lelaki sebayaku,tapi kali ini karena di sekitar sekolah aku harus
waspada agar tak menabrak guru.
‘’Woy Je curang lho.Nanti gue kasih
cinta nih.ha ha ha’’
‘’Ha ha ha ha’’.
Saat kami baru setengah
perjalanan,tiba-tiba ada seorang guru mencegat kami dari depan pintu kelas.Bu
Kesti yang terkenal paling galak.
‘’Kenapa lari-lari di
sekolah?’’ tanyanya galak.
‘’Karena kami sedang di sekolah
bu’’. Kujawab.
Bu Kesti langsung marah dan melotot
pada kami.Kupikir jika ada anak yang nakal itu wajar apalagi di SD.Bukannya
seharusnya guru itu harus bisa mengajak kami agar sadar ya?.Dan yang ditakuti
itu dihindari bukan disegani.Benar?.
Saat itu aku sempat berpikir,jika
merka ingin aku berubah itu tidak akan bisa.Aku tidak akan merubah sikapku hanya
karena omelan guru yang sepertinya menyayangiku tapi justru sebaliknya
bagiku.Aku akan benar-benar berubah jika ada sesuatu yang mampu membuatku
berubah.
Kami menuju kelas dan tidak
berlari,hanya jalan santai lalu memastikan bahwa kami akan selamat dari
serangan seperti tadi lagi.Setelah berganti pakaian kami kembali belajar dengan
badan lemas dan perut keroncongan.Ketika bel istirahat berbunyi,aku dan anak
cowok lansung berlari menuju kantin,tapi aku menuju lapang dengan bekal yang
sengaja dibuatkan bunda untukku saat pelajaran olahraga saja yang tak mungkin
kutolak.Sebagian anak cowok ada yang datang menyusulku dan sebagian lain tetap
di kantin.
‘’Untung di kelas kita gak ada yang
lugunya kebangetan’’ kataku.
‘’Kenapa emang,mau lo jailin?’’ Tanya
Amri.
‘’Bukan’’
‘’Terus,mau lo apain?’’
‘’Mau kucium tangannya.Ha ha ha’’
aku ketawa.
‘’Ha ha ha ha’’ yang lain juga.
Waktu itu hari minggu,aku,
Wulan,Monik,Daffa,Titi,Wahyu,Raihan,dan Alwan jogging bersama.Itu sudah menjadi
kebiasaan anak cewek,tapi kali ini mereka memintaku untuk kemudian mengajak
anak cowok ikut serta.Mereka tidak bilang sendiri,malu katanya.Sesaat aku
seperti merasa kami bukanya jogging tapi jalan dengan berpasang-pasangan.Tapi
bersamaan.Entah kebetulan yang disengaja atau bukan tapi lihat,Wahyu dengan
Titi yang digosipkan cocok untuk menjadi pasangan karena tubuh mereka yang sama
mungil.Aku dengan Raihan yang katanya menyukaiku.Wulan dengan Daffa yang memang
sudah jelas berpacaran dan,Monik dengan Alwan yang sama-sama paling putih di
antara kami semua.Tapi menurutku ini menyenangkan karena aku tidak perlu bosan mendengarkan ceritaan para
anak cewek yang hanya menggosipkan cowok yang disukainya.Aku bisa melontarkan
kata-kata konyol ketika saat bersama teman-teman cowokku dan sama melakukan hal
yang menyenangkan.Tapi sepertinya Titi tidak leluasa dengan kehadiran Raihan
yang katanya dia sukai,sedangkan Raihan
seperti tidak menghiraukannya sama sekali.Aku pernah membicarakan hal ini pada
teman lelakiku yang selalu menyerang Raihan yang hanya tersenyum karenanya.
‘’kalian jangan jodohin aku sama
Raihan terus’’
‘’Kenapa emang?’’
‘’Kasihan Titi.Nanti dia
kebakaran’’
‘’Hah.Kebakaran gimana?’’ Raihan
yang bertanya sekarang.
‘’Kebakar api cemburu.Ha ha
ha’’.Kami tertawa.Lebih tepatnya mentertawakan.
Kami sebenarnya bukan jogging,tapi hanya
sekedar jalan santai biasa di kawasan Cikunir yang biasa digunakan untuk
kegiatan hari minggu seperti,jogging,bersepeda,senam,dan yang seperti
kami.Banyak juga para pasangan yang berdua-duaan di pinggir jalan sambil
menikmati sarapan.Ketika kami tiba disebuah lapangan,kami berhenti di sana dan
mengajak yang lain untuk lomba lari seperti biasa.Kesukaanku.
‘’Lomba kuy’’
‘’Lomba apa?’’
‘’Biasanya juga lomba lari,kan?’’
‘’Kuy. Sepanjang lapang ini aja dan
satu kali putaran’’
‘’Idih, kayak kancil banget si lho
Je’’.Je,panggilan nama untukku dari kawan-kawan.
‘’Tapi aku gak suka curi mentimun
kok’’
‘’ha ha ha ha ha’’.Aku
tertawa.Mereka juga.
‘’Ini lomba terakhirku bareng
dengan kalian kok. Aku janji nih’’
‘’Apaan si lo janji-janji.Emangnya
mau ke akherat?’’
‘’Belom, cuma mau ganti habitat
doang kok.He he’’
‘’Heleh,emang mau kemana?’’
‘’Mau ke tempat yang gak ada.Ha ha ha
ha’’.Kami tertawa lagi.’’Jadi gak nih?’’
‘’Oke.Siapa berani?’’
Daffa dari duduk langsung bangun
dengan semangat begitu pun kami semua.Anak cewek menatap satu sama
lain.Bingung.
‘’Gimana.Pada takut kalah?’’ Tanya
Alwan.
‘’Cowok sama cowok cewek sama
cewek’’timpal Titi kali ini.
Dan fine,kami menemukan jalan
keluarnya dan untuk yang pertama main adalah anak cewek yang dimenangi oleh
Wulan.Aku sengaja tidak menang untuk kali ini dan hanya menikmati setiap
langkah demi langkah bersama dengan kawanku.Ini yang terakhir.Kemudian anak
cowok.Aku menunggui di ujung lapangan
dan Wulan yang akan mewasitkan.He he,aku hanya tahu wasit yang mengatur acara
dalam permainan.Setelah Wulan memberi aba-aba mereka bersiap dan lalu lari dengan kecepatan yang sangat kuat.Yang
pertama adalah Daffa,Walau tubuhnya agak montok,tapi untuk urusan kecepatan lari
dialah yang nomor satu.Lalu disusul Raihan,Wahyu,dan terakhir Alwan.
Karena tidak mau ditinggal
sendirian di ujung lapang,aku berlari menyamai Alwan agar sejajar.
‘’Ayo Daf semangat,ada Wulan di
depan nunggu’’ teriakku
‘’Je.Lo beneran gak suka sama
Raihan?’’tanya Alwan di sampingku.
‘’Nggak.Baik sih,tapi ya emang gak
suka aja’’
Setelah kejadian kemarin,besoknya
adalah hari terakhirku sekolah di sana.Itu karena bundaku yang mendadak jatuh
sakit entah apa.Setahuku bunda hanya
selalu mengerang ketika sakit kepala dan sakit perut yang katanya maag.Dan saat
itu aku tidak berpikir bahwa itu akan sangat berbahaya di kemudian hari.
Hari itu tiba di mana aku harus
mengakhiri sekolahku di sana karena bundaku yang tiba-tiba jatuh sakit.Entah penyakit
apa yang diderita bunda karena biasanya bunda hanya akan mengerang sakit kepala
dan itu pun bunda tidak ingin dibawa ke rumah sakit karena katanya ini hanya
sakit kepala ringan.Dan aku yang waktu itu masih anak-anak tidak mengerti
apa-apa dan tidak menganggapnya berbahaya.Dan tiba hari di mana aku akan pergi
meninggalkan kehidupan yang selama ini kukenal dan akan menempuh hidup baru di
kediaman yang baru pula.Aku akan tinggal di rumah yang sudah dengan susah payah
dibangun oleh ayah dan bunda yang selama ini hanya sempat ditinggali saat aku
dan keluargaku pulang ke kampung halaman untuk menemui nenek dan kakek.
‘’Jihan.Kamu masih akan sekolah hari ini dan
nanti jika akan berangkat ayah akan menyusulmu ke sekolah.Kau pamit dulu dengan
kawan-kawanmu’’
‘’Iya ayah’’
Ayah berjongkok,menyamai tinggi
tubuhku dan menyentuh kedua pipiku dengan lembut sambil menatap mataku
dalam-dalam seolah-olah sedang mencari sesuatu di mataku.Tapi justru aku yang
menemukan kesedihan di matanya.Ayah mengecup keningku lembut.
Aku ditemani ayah ke sekolah yang
biasanya hanya akan ditemani oleh pak Tarjo.Sopir pribadi ayahku.Saat tiba,ayah
mengecupku lagi lembut.Aku berlari seorang diri menuju kelasku yang ada di
ujung dan ketika aku baru masuk ada seorang guru yang kemudian datang dan memberi tahu bahwa guru yang akan
mengajar hari ini tidak bisa datang karena sedang sakit. Sontak saja semua
siswa bersorak-sorai gembira dan langsung melakukan apa saja yang dapat membuat
mereka merasa senang.Ada yang berlari-lari,bermain kapal-kapalan,dan ada yang
bercerita tentang apa-apa saja yang ada di otak mereka bahkan sampai ada yang
naik ke atas meja lalu ada seorang guru yang datang ke kelas kami dan dengan
lantang berteriak memarahi kami yang langsung diam di tempat.
‘’Hei Wahyu.Turun kau dari meja.Tak
sopan ‘’
Suaranya terdengar galak.Bu
Kesti.Siapa lagi guru yang mau dengan susah payah memarahi kami kalau bukan
dia.Wahyu langsung turun dari atas meja lalu berjongkok dan tak bangun lagi
sampai bu Kesti keluar.
‘’Ih galak banget sih tuh guru’’
‘’Iya,mamahku aja gak pernah sampe
segitunya’’
‘’Udah ah,cerita aja yuk di
belakang’’
‘’Eh Jihan,sini napa,ama anak
cowok terus.Gabung ma kita-kita’’
‘’Oke deh sekalian perpisahan’’
‘’Hah.Perpisahan apa?’’
‘’Iya.Aku kan mau pindah’’
‘’Pindah kemana?’’
‘’Ke tempat tinggal asli orang
tuaku’’
‘’Oh yang di Bandung itu?’’
‘’Iya’’
‘’Kapan pindahnya?’’
‘’Sekarang’’
Jam sepuluh.Waktunya istirahat,setelah
banyak cerita dengan anak-anak aku dipanggil oleh kepala sekolah untuk ke
ruangannya.
‘’Sebentar bu Rini.Saya pisahan
dulu dengan anak-anak’’
Aku berpamitan lagi dengan yang
lain dan anak-anak cowok.Reaksi mereka sama seperti anak-anak- cewek tapi
mereka tidak cerewet dan paling hanya ‘tos’ doanglah.Tos ciri khas kami.Ada
yang mencubit hidungku sampai merah dan kesakitan.
‘’Aduhhhh,,’’
Aku menjerit saat Raihan mencubit
hidungku.
‘’Gitu doang sakit,payah’’
‘’Dah tau kecil,malah mau
diilangin’’
‘’Dah semua.Jangan kangen yah’’
Akhirnya aku meninggalkan sekolah
dengan sedih.Saat di dalam mobil,kulihat ke arah kelasku dan mereka semua
melambai ke arahku.Sejak saat itu sampai kapanpun aku tidak akan lupa dengan
mereka,menurutku teman SD adalah teman yang benar-benar teman.Kami dipertemukan dari kecil saat kami
semua masih polos dan bersama-sama selama enam tahun itu bukan waktu yang
sebentar.
Bunda dirawat lagi di rumah sakit
yang ada di Bandung selama satu minggu dan pada hari terakhir bunda dirawat dia
terlihat sangat segar bugar seperti hanya sakit ringan.Padahal aku baru tahu
bahwa bunda menderita usus buntu yang sudah kronis hingga sedikit kemungkinan
bunda untuk sembuh total.Begitu menurut dokter.
Saat bunda ada di rumah dia
membantuku dan kakak yang ikut saat pertama kali bunda dibawa ke kampung
sedangkan suaminya kembali lagi bekerja dan ayah juga tidak bisa lama-lama
meninggalkan pekerjaanya di sana.Aku sudah dipindah sekolahkan oleh ayah ke
sekolah lai,tapi aku masih belum mau sekolah karena ingin menemani bunda dulu
dan bunda pun menyetujuinya.Aku sekolah baru setelah satu bulan dan untungnya
aku tidak mendapat masalah untuk hal itu. Saat aku masuk ke sekolah untuk yang
pertama kali,kulihat adalah sekolah yang di dalamnya memakai jilbab
semua,kecuali anak-anak lelaki dan aku yang baru di sana.Saat masuk kelas aku
sempat ditanya oleh salah satu calon teman baruku.
‘’Hei.Kamu muslim kan?’’
Sontak saja aku dibuat kaget saat
mendengarnya.Itu pertama kalinya aku ditanya hal seperti itu.
‘’Tentu saja.Kenapa?’’
‘’Kenapa tidak memakai kerudung?’’
‘’Tidak ada yang berbicara hal ini
padaku’’
‘’Mau pakai punyaku dulu?’’
‘’Kau bawa selemari kerudung yah?’’
‘’Ha ha ha ha’’
‘’Nih’’
‘’Terima kasih.Besok akan
kukembalikan’’
Sorenya aku meminta kakak untuk
mengantarku membeli baju seragam yang muslim dengan anak kakak yang dibawanya.Sekalian
ingin bermain dan akhirnya setelah selesai membeli baju seragam yang baru aku
dan Vivi.Nama panggilan anaknya kakak.Bermain permainan apa saja yang ada di
sana dan membeli masing-masing satu ice cream sedangkan kakak hanya sesekali minta
padaku.
‘’Jihan.Kalau bunda pergi Jihan tak papa?’’
‘’Kemana emang.Kalau jauh Jihan
ikutlah’’
‘’Iya sih.Kakak juga sama’’’
Saat itu di sekolahku sudah masuk
masa-masa ujian akhir semester dan tinggal menunggu hari untukku melaksanakan
ulangan akhir di sekolah.Saat itu hari sabtu dan hari seninnya adalah hari
pelaksanaanya.Aku belajar sangat fokus walau sebenarnya aku tidak punya masalah
dengan pelajaran.Aku minta ditemani bi Ijah,bukannya aku takut sendiri tapi aku
tidak ingin terlalu merasa sendiri disaat semuanya sibuk menemani bunda di
rumah sakit yang hanya sempat satu hari dibawa ke rumah saat itu saja.Saat aku
merasa sudah bosan aku meminta bi Ijah untuk menemaniku ke kamar kerja ayah
yang tidak pernah dikunci karena itu sebagai ganti aku yang belum di izinkan
memiliki handphone sendiri.Bunda pernah bilang.
‘’Kalau kamu masih kecil sudah
diberi hp.Nanti besar mau diberi apa?’’
‘’Ya hape juga donk.Tapi yang lebih
bagus dong’’
‘’Yang lebih bagus dari pada
nilaimu?’’
‘’Maksudnya?’’
‘’Kalau hapemu lebih bagus dari
pada nilaimu bagaimana?’’
‘’Iya,gak gimana-gimana’’.Kataku
polos.
‘’Iya sudah,nanti saja hepenya
kalau kamu sudah tahu harus gimana-gimana’’
Aku yang masih polos tidak mengerti
ucapan itu.Harusnya aku mengerti waktu itu,tapi sudah terlambat.Aku
membangunkan bi Ijah dan menuju ke kamar kerja ayah dan duduk di kursi kerja
ayah lalu langsung mengutak-ngatik sesuai yang ayah ajarkan padaku.Aku menonton
video apa saja yang menurutku akan sedikit menghibur diri.Aku membuka sebuah
artikel tentang penyakit yang bunda derita dan saat membacanya aku tersentak
bahwa dalam artikel ini usus buntu akan berakhir dengan kematian yang tak
diduga.Lalu untuk menghilangkan rasa itu aku membuka video Naruo yang sangat
kusukai dan menurutku Naruto banyak mengajarkan cara hidup yang lebih baik.Tentang
persahabatan,kekeluargaan,pendidikan,bahkan juga cara kita memandang seseorang
tidak hanya dari luar saja.Jika kalian tidak setuju mungkin karena kalian tidak
suka dan aku tidak masalah.
Keesokan harinya aku duduk-duduk di
teras rumah sedang menunggu kedatangan ayah yang akan menjemputku untuk ke
rumah sakit.Mumpung hari minggu.Aku melihat salah satu temankku Angga yang
bersepeda seorang diri dan aku memanggilnya lalu mengajakknya untuk bermain bersama.
‘’Mau maen di rumah apa
keluar?’’.Kutanya.
‘’Mmmm,keluar aja deh’’
‘’Aku bilang dulu ke bibi’’
Aku langsung berlari mencari-cari
bibi dan bicara padanya untuk bilang pada ayah bahwa kami akan menyusulnya
setelah aku pulang dari bermain dan aku langsung kembali ke Angga yang
melihatnya menunggu dengan tenang dan santai.Aku akan mengambil sepedaku.
‘’Jihan.Sini.Naek sepedanya berdua
aja’’
‘’Oh.Oke deh’’
Dan,ya,aku tak jadi bawa sepeda
karena dia mengajakku dan tidak perlu capek menggoes sepeda.Tapi aku harus
berdiri dan terkadang duduk menyamping di depannya dan sesekali menjaili
tagannya yang memegang kemudi menuju taman terdekat agar oleng dan terjatuh
bersama,dan benar saja ketika kami sampai di sebuah lapang yang ada di kawasan
taman tersebut Angga berkata.
‘’Jatohin nih jatohin’’.Katanya.
‘’Iya jatohin aja’’
Saat itu juga kuolengkan tangannya
sedikit lebih keras dari biasanya dan seketika itu juga kami langsung jatuh ke
atas rerumputan yang dirawat rapih.
‘’Ha ha ha ha’’
Kami tertawa.Angin di Bandung
sangat sejuk hari itu.
Kami berdua berbaring mengahadap ke
langit di posisi kami terjatuh tadi.Aku diam.Angga diam.Kami menikmati
keindahan alam pagi itu dan kemudian aku berpaling ke arah Angga yang ternyata
sudah memandangku lebih dulu dariku.Berharap dapat membuka percakapan dari pada
tiba-tiba tertidur pulas di tengah lapang berdua dengan Angga seperti ini.
‘’Kenapa.Ada yang mau
diomongin?’’.Kutanya.
‘’Ada’’
‘’Apa?’’
‘’Ini’’
‘’Ya,kenapa?’’
‘’Nggak papa.Ha ha ha ‘’
‘’Aneh’’.Kataku dan langsung
tertawa.
‘’Memang’’
‘’Ha ha ha parah kau’’.Dan langsung
memandangnya lagi.’’Eh,mau beli komik?’’
‘’Kapan’’
‘’Kapan-kapan.Ha ha ha’’.Aku
tertawa.Angga tertawa.
‘’Kamu suka komik?’’
‘’Enggak.Aku sukanya bukan sama
komik’’
‘’Terus sukanya apa?’’
‘’Aku sukanya ke anak cowok.Ha ha ha’’.Angga
juga tertawa
‘’Kenapa suka?’’
‘’Kenapa yah.Mungkin karena ada
gambarnya’’
‘’Oh.Kamu bisa gambar?’’
‘’Bisa.Gunung sama rumah kotak’’
‘’Rumah kotak?’’
‘’Iya.Gambar aja kotak,tambah
pintu,jendala,sama atapnya segi tiga.Udah’’
‘’Ha ha ha.Itu sih anak TK juga
bisa’’
‘’Jadi gak?’’
‘’Apa?’’
‘’Beli komik lah’’
‘’Ok.Kuy’’
‘’Kuy?’’.Kutanya
‘’Iya.Kuy,kaya kamu’’.Jawabnya
dengan senyum.’’Kamu tau kan tempatnya?’’.
Kami tertawa di jalan menuju ke
tempat komik yang aku sudah tahu dari salah satu temanku yang juga suka dengan
komik Naruto karya Masashi Kishimoto.Kami berani menuju tempat buku hanya
berdua tanpa ditemani orang yang lebih dewasa karena tempatnya dekat dengan
komplek rumahku.Sebenarnya aku juga berani sendirian walau jauh tapi bunda dan
ayah akan sangat khawatir saat tahu dari bi Ijah.Bunda pernah bilang.
‘’Bukan bunda mengekang atau
menahan jarak bermain Jihan.Tapi kan masih ada ayah dan bunda lalu bi Ijah yang
siap menemani.Bunda tau anak bunda ini pemberani,tapi juga bukan satu-satunya
yang pemberani.Bagaimana dengan orang yang berani mengambil Jihan dari bunda
dan ayah?’’
‘’Akan kulawan dengan berani’’
‘’Kamu akan lebih berani jika ada
yang menemani,yah?’’
‘’Iya’’
‘’Bunda suka kamu yang mengerti
ini’’
‘’ Anak bunda kannnn’’
Kataku riang sambil memeluk bunda
erat seperti tidak ingin lepas dan ingin selamanya dalam dekapannya yang hangat
dan memberi rasa nyaman juga aman.He he,kupikir aku berhasil merebut bunda dari
ayah.
Tidak lama kemudian kami akhirnya
sampai juga di toko tujuan kami.Aku langsung masuk sedang Angga menyimpan
sepedanya.Aku langsung mencari-cari buku yang kuinginkan dan Angga pun masuk
lalu menanyakan buku apa yang sedang kucar,katanya ingin membantu.
‘’Kamu bawa uang emang?’’.Tanya
Angga.
‘’Bawa.Tadi aku dah ada niat buat
beli sendirian kok.Tenang aja kali’’
‘’Kok sendiri.Kemana bundamu.Kalo
ayah pasti lagi kerja kan?’’
‘’Bundaku lagi sakit di rumah
sakit.Dan ayah,dia tidak kerja tapi menemani bunda di sana’’
‘’Kamu tidak ke sana?’’
‘’Tadinya iya.Tapi pas liat kamu
aku mau main bentar sekalian beli komik’’
‘’Oke.Maaf,kapan-kapan aku jenguk
deh’’
‘’Iya.Gak papa’’
Aku masih terus mencari komik Naruto.
‘’Bukannya yang kamu pegang tadi
Naruto yah.Kok di simpen lagi?’’
‘’Iya.itu volume 12 aku dah
punya.Aku lagi cari volume 30nya’’
Angga membantu mencarikan komik
itu untukku dan sesekali menunjukannya padaku,takut salah pilih katanya.Dan
setelah beberapa lama di dalam mencari-cari akhirnya kami menemukan apa yang
aku cari dan segera membayarnya kekasir.Angga kembali membawa sepedanya dan
kami pun segera berlalu menuju rumahku dan setelah dekat, aku melihat kertas
kuning yang dengan tulisan dan aku baru tahu apa maksudnya setelah ingat pada
artikel yang kubaca tadi malam.Tanpa sadar aku langsung turun dari sepeda Angga
yang tiba-tiba terasa malah melambat seketika.Angga tetap mengejarku di
belakang dan ikut masuk saat aku juga masuk
di dalam kerumunan keluargaku yang sudah banyak berdatangan entah sejak
kapan.Aku memaksa masuk ke kamar ayahku yang banyak orang yang terdengar ada
seseorang yang sedang menangis dan air mataku pun ikut mengalisr deras saat
melihat kakak sudah terkulai lemas tak sadarkan diri dan dibopong oleh suaminya
yang juga entah kapan datangnnya.Bunda.Dia tertidur pulas di samping ayah yang
juga sama lemasnya seperti kakak,tapi ayah tak meneteskan air matanya di depan
orang banyak.Aku,aku menangis sejadi-jadinya tak peduli dengan sekitar dan
bermaksud memeluk bunda untuk terakhir kalinya saat sentuhan tangan keriput
dengan kuat menahan tubuh kecilku.Aku masih memberontak dan untuk yang keduanya
ayahlah yang menanganiku.
‘’Jangan sampai air matamu
menjatuhi jenazah bunda.Itu akan menyiksanya di dalam kubur’’
Bi Ijah mengajakku keluar untuk
menenangkanku dan ada Angga di sana yang menunggu sambil menatap ke arahku yang
baru keluar dari kamar dengan tetap menangis.Kami duduk di dekat Angga yang
menatapku dengan iba.
‘’Yang kuat ya Jihan.Masih banyak
orang yang sayang kamu kok.Ini ada aku temen kamu Jihan’’
Dan sejak saat itu aku dan Angga
berteman lebih dekat lagi.
‘’Jangan keras-keras mandiinnya’’.Kataku
geram.
Cara mereka memandikan bunda
seperti pada benda mati saja.Aku yang waktu itu ikut memandikan bunda dengan
kakak.Kakak di bagian kepala sedang aku hanya mengelus-ngelus kaki bunda.
***
Sekarang aku menjadi anak sebuah
pondok pesantren sederhana yang hanya baru berdiri sekitar 4 tahunan.Aku kelas
3 SMA.Anak sosiologi-1 dan sekarang umurku 16 tahun.Setelah kematian bunda aku
jadi lebih pendiam tapi bukan berarti aku mengasingkan diri dari dunia.Aku
hanya bicara jika perlu dan pantas.Aku akan lebih banyak bercerita pada orang
yang menurutku benar-benar baik hatinya.Ayu,teman satu kelasku yang sangat aku
hargai apapun yang ada pada diriya meski yang lain selalu melihat sisi buruknya
yang padahal hanya hal kecil bagiku.Aku tak memutuskan keputusan tanpa
dipertimbangkan lebih dulu dan aku berusaha mencoba wanita yang sesunguhnya
setelah mendapat pencerahan dari umi dan abi saat tahu keadaanku yang
sebenarnya.Katanya,wanita yang menyerupai pria itu berarti dia tidak bersyukur
pada apa yang tuhan berikan dan juga sebaliknya lalu juga akan ada azab yang
pedih untuk si pendosanya dan juga umi bilang bahwa bunda akan senang jika tahu
aku telah merubah sikap jadi lebih bak dari Jihan yang dulu.
Umi dan abi adalah panggilan untuk
pemimpin dan yang punya pondok
sekaligus,itu juga atas pinta umi dan abi pada saat kami sedang ada acara masa
pengenalan santri baru.Mereka adalah orang yang sangat mulia dan baik hati,tak
aneh jika banyak para donator yang menyumbang pada pondok ini.Saat mereka tahu
bahwa aku sudah tak ada bunda,mereka berniat membebas biayakan karena mereka
mencintai Raululloh.Tapi ayah tetap memaksa untuk membayar walau tak seberapa,dah
ayah juga suka sedekah atau zakat atau berkurban atau sekedar syukuran atas
kesuksesannya untuk mencari nafkah walau hanya lewat suruhannya.Pasti ayah
sangat sibuk.
Awalnya aku menolak untuk dimasukan
ke dalam pondok,karena di bayanganku bahwa pondok itu akan sangat ketat dengan
berbagai pelajaran yang aku tak kenal sama sekali dan pasti harus menghafalkan
Al-Qur’an dan juga kitab-kitab gundul.Dulu aku yang tidak suka dijilbab
sekarang malah selalu berpakaian seperti
seorang ustadzah.Aminnn.Kemana-mana harus berkerudung dan jilbab yang super
banget ribet padahal aku tak pernah minta untuk dibelikan baju yang super-super
besar seperti ini.
Kebiasaan para santriah saat ada yang
mendapat adrahi_makanan yang dikirim dari rumah_.Ketika sang orangtua murid
masih ada di dalam kamar kami semua akan berpura-pura malu dan setelah orangtua
sang murid sudah keluar kami akan menunggu diberi titah untuk memakan nasi yang
biasanya akan banyak dibungkus dalam beberapa bungkus dan jika yang punya sudah
memberi titah untuk dimakan sejak tadi maka kami tidak akan menunggu perintah
yang kedua kalinya dan langsung saja menyantap apa-apa saja yang
dihidangkan.Aku berada di dalam kamar yang isinya bisa maksimal 20 orang dan
kamar ini hanya ada 14 orang.Mulai dari kelas 1 MTs sampai kelas 3 SMA.Tapi
kebanyakan SMA sih.Kamarku di lantai dua dan kedua dari tangga dan di depannya
terdapat lapangan voli dan bulu tangkis dan juga ada tempat untuk menjemur
pakaian di sampingnya.Karena pondok kami sudah di bangun lebih bagus dari pada
dulu saat aku awal masuk dan di depan asrama yang hanya satu ruangan rumah umi
dan abi yang dijadikan kamar kecil.Sekarang sudah berlantai dua.Dulu ada kolam
renang bebek di depan asrama dan sekarang berubah menjadi masjid megah nan
indah dari salah satu hamba Alloh.Yang dulu masih ikut numpang bersekolah tapi
sekarang sudah memiliki RA,MI,MTs,dan SMA dan hanya tinggal menunggu
Universitas.Jika dulu jalannya hanya berupa tanah basah dan becek,sekarang
sudah diaspal sampai pada gerbang yang mendadak dibuat saat itu juga.Dan semua
itu berkat kebesaran hati umi dan abi yang seperti tak memiliki celah di mataku
dan anak-anaknya juga cantik dan ganteng.Guru atau para kyai yang mengajar kita
semuanya sudah menikah dan memiliki anak-anak yang juga cantik dan ganteng
pula.Ada pak Engkus dengan anaknya yang bernama Jaroh dipesantrenkan di sini
berkamar di kamarku.Kedua anak dan bapak ini orang yang humoris.Lalu pak Hasan
yang sangat lemah lembut dan sangat pengertian begitu pula dengan istrinya.Antara
pak Hasan,pak Engkus,dan abi.Mereka semua adalah guru dan murid dan abi sebagai
guru mereka di dua pondok yang berbeda karena abi mondok kurang lebih 13
tahunan di dua tempat.
Biasanya kami sekolah akan
berangkat dengan berbondong-bondong dari pukul 06.00 sampai pukul 07.00 karena
sekolah kami mengerti keadaan para santri yang harus menggunakan angkutan umum
untuk sampai di sekolah yang atas dasar naungan pondok karena memang sudah
tidak ada tempat lagi untuk membuat sekolah dekat dengan asrama putra atau pun
putri.Dan,yah. Asrama putra dan putri dipisah.Tapi untuk sekolah luar agama
akan tetap sama disatukan Karena akan semakin menguras tenaga jika membangun
dua sekolah sekaligus dan abi juga masih bisa mentolerir apa yang akan terjadi
nanti.Para gurunya sudah disumpah tidak untuk melakukan penghianatan berbentuk
apapun apalagi sampai mengejek atau membeda-bedakan kasta atau derajat atau
pula maratabat dan pangkat.
Itulah berada di pondok dengan berbagai pengalaman yang susah dan senang
kulalui saat itu
juga dengan gotong royong yang
tinggi.
Aku sekolah.Seperti biasa dengan teman
sekamarku atau dengan siapa pun bergerombol berjalan kaki karena lumayan jauh,tapi
juga ada 3 orang yang berangkat menuju MTs_kalau untuk RA dan MI itu hanya anak
luar_.Kami bersekolah seperti yang lain bersekolah juga,tapi hanya jika ada tugas dari internet saja yang
akan membuat kami agak kesulitan mengerjakannya karena di pondok belum
terdapadat fasilitas seperti itu.Dan biasanya pun jika ada tugas dari internet
maka para guru akan selalu membagikan kelompok atau paling tidak kami akan ke
warnet yang ada di dekat sekolah atau juga meminjam handphone kakak-kakak ma’had
a’li yang baik hati.
Di pondokku ada beberapa kelas.Yang
kelas 1 ibtida akan mengaji dasar terlebih dahulu seperti wiridan,do’a-do’a dan
lain-lain.Sedangkan utuk kelas 2 ibtida akan mengaji yang lebih tinggi seperti
jurumiah dan lain-lain.Kelas 3 ibtida akan mulai mengaji oleh para dewan kyai seperti
tafsir atau sorof.Dan kelas aliyah akan mengaji dengan abi secara bergantian
dengan santri putra satu minggu sekali mengaji ‘Alfiyah ibnu Malik’ dan setiap
malam jum’at akan ada bagian setoran hapalan pada kakak-kakak kelas sedangkan
untuk aliyah dan ma’had a’li harus ke abi dan ini yang membuat mental para
santriah dan santriwan diuji.Rumah beliau berdampingan dengan asrama putri jadi
hanya tinggal mengetok pintu rumah akan jika akan setor talaran dan beliau akan
menuju asrama putra selanjutnya untuk sekalian mengontrol dalam pertemuan yang
dikhususkan untuk itu.Setaip dua bulan sekali akan diadakan acara muhadhoroh
gabungan dengan para ihkwan di masjid besar yang sengaja dibuat para warga untuk
acara keagamaan seperti ini yang akan dibarengi oleh umi dan abi yang juga
berjalan bersama kami para santriah dan menceritakan apa saja yang ada di dalam
kepala kami.Setiap kali acara sudah di mulai dan ada seseorang santriwan maju
dengan gagah berani dan ketampanan wajahnya akan membuat para santriah tergugah
hatinya untuk berteriak-teriak menggoda dan maka dengan sangat seketika jika
dia bukan seorang yang sangat pemberani maka dia akan langsung gugup dan semua
kata-kata yang telah dihapalkannya tadi akan segera menghilang dari otaknya.Dan
untuk santri baru yang dengan sengaja dipanggil untuk penghibur.Karena pasti
dia akan gugup luar biasa dan akan menahan malu yang sangat berat saat masih
terus berada di mimbar dan itu merupakan kengerian sat tiba-tiba nama mereka
dipanggil tanpa aba-aba.
Pernah saat anak-anak dari umi dan
abi maju ke depan mimbar dan kami semua terpikat oleh keindahan yang Tuhan
ciptakan untuk mereka dan bagaimana cara mereka menyampaikan materi yang
dipidatokan.Bahkan kami para santriah dan santriwan saling merebut perhatian
mereka dengan berbagai macam kata-kata yang untungnya masih pantas
didengarkan.Umi dan abi hanya tersenyum mendengarkannya,menurut mereka itu
masih sangat wajar dan asal jangan sampai mengeluarkan kata-kata kotor.
Anak umi ada tiga orang.Yang pertama
adalah Muhammad Fahri al-Fauzan,dia berumur 20 tahun sekarang dan sedang kuliah
di salah satu Universitas yang ITB.Wow memang.Dia juga sekarang sering
mengikuti kegiatan kepengurusan di asrama putra.Anak abi yang kedua adalah
Syifa Nurul Fuadzah.Usianya baru 16 tahun sama sepertiku kami satu sekolah tapi
tidak satu kelas dia anak IPA Fisika -1 yang terkenal kepintarannya,kecantikannya,dan kesantunannya
dalam bergaul.
Terdengar kabar yang masih belum
jelas dari mana asalnya jika sudah berada di mulut cewej pasti akan susah
diketahuinyadan kukira akan agak mustahil.Bahwa kak Fahri menyukai Nurul.Teman
sekelasku yang bertubuh paling mungil tapi umurnya yang paling tua di antara
kami semua,dia cantik,berkacamata,pintar,dan tentu saja banyak yang ingin
menjadu pacarnya.Tapi sejauh ini pun belum ada yang berhasil menguasai hatinya
kecual dirinya sendiri.Dan juga ada kabar bahwa umi dan abi berniat menjodohkan
kak Fahri dan Nurul.Mereka yang bersangkutan hanya akan tersenyum ketika
mendengar gossip tersebut berseliweran di kuping mereka dan lagi pula mereka
selalu diam saat ada yang menanyakannya pada kak Fahri dengan sangat berani
jika dirinya diutus abi untuk menggantikannya mengajar karena sakit atau pun
berhalangan,sedangkan kak Syifa masih
belajar dan tetap rutin mengikuti kupulan-kumpulan para pengurus yang kebetulan
aku juga adalah salah satu dari orang yang umi dan abi juga kawan-kawan percaya
padaku.
Jika aku di posisi Nurul aku akan
sangat bahagia tentunya akan hal tersebut,tapi aku memiliki sendiri dia yang
aku sayang.
Hari minggu biasanya kami akan
mengadakan rutinitas sendiri seperti jogging keliling komplek setelah meminta
izin abi dan umi dan kami juga boleh jika hanya menggenakan training olahraga
saja.Anak-anak yang lain akan melakukan sepak bola antar kawan dan kawan di
lapang dan ada juga yang bermain bulu tangkis dan juga kak Syifa akan ikut di
antara salah satu dari kegiatan yang kami lakukan.Tapi kak Syifa lebih sering
bersamaku,mingkin karena kami satu sekolah dan satu angkatan jadi lebih enjoy
bersama kami.Selama di perjalanan banyak yang bisa kami ceritakan satu sama
lain dan jika sudah merasa lelah jalan-jalan kami akan membeli minuman yang terkadang
kak Syifa yang suka membayarkannya,kami jadi malu karena sikap baiknya yang
sama seperti umi dan abi.Tapi sebenarnya kami juga senang karena dapat
menghemat uang jajan.He he he.
‘’Oh ya.Katanya bang Fahri mau
dijidpokn dengan kak Nurul yah?’’
Pertanyaan seperti itu oleh salah
satu keluarganya sendiri adalah kode yang bagus.Dan sontak saja Nurul langsung
tersipu malu dan tertunduk saat kak SYifa menanyakannya langsung di depannya.
‘’Iya kak.Pasti kak Syifa tau dari
umi dan abi sendiri yah?’’
‘’Iya.Soalnya waktu kalian selesai
ngaji isya itu abi langsung cerita ke umi sama aku.Tapi bang Fahrinya lagi gak
ada.Lagi ada urusan kuliah di luar sama teman-temannya’’
‘’Nurul gimana tuh.Udah ada kode
nih dari keluarganya?’’
Nurul tidak banyak bicara jika sol
ini.Dia hanya akan tersenyum kan kataku juga.
Malam minggu.Aku sedang melakukan
persiapan di jalan yang sedang menuju ke masjid besar karena diadakan acara
pengajian setiap satu bulan sekali dang yang mengahadirinya hanya tingkat
aliyah dan ma’had a’li yang berangkat.Aku,sedang berlatih pidato di depan semua
yang sedang berjalan untuk nanti di acara tesebut.Kata abi uji mental itu di
mana saja boleh asal wajar.Abi hanya tersenyum saat melihatku mengamalkan
perkataannya di jalan seperti ini.
Aku mengambil tema tentang
dilarangnya berlebih-lebihan dalam hal apapun.Dan aku dengan sudah terlatih
oleh abi dari setiap caranya berpidato di depan khalayak umum aku selalu
memperhatikannya dan selalu mencobanya saat sudah di dalam kamar.Aku bisa
membawakan suasana yang di dalamnya para ibu-ibu dan gadis-gadis muda sepertiku
dapat berkomunikasi.Dan ketika acara sudah selesai abi dan umi langsung
memberikan selamat atas prestasiku di depan
masyarakat.Dan seketika itu juga aku teringat pada bunda yang sangat
ingin melihatku berbicara di depan umum seperti ini dan aku juga sudah
menganggap kakakku sebagai pengganti bunda,lagi pula postur tubuh bunda dan
kakak sangat mirip.Nanti ketika aku pulang aku akan bilang tentang semua yang
kualami selama akhir tahun ini dan sekarang aku juga sudah kelas 3 dan akan
sebentar lagi merasakan kehidupan bermasyarakat setela kuliah nanti.
Ayah sudah menikah lagi tiga tahun
lalu bersama wanita pilihan kakaknya dan juga tentunya pilihan hatinya juga
meski aku tidak suka akan kehadirannya yang menggantikan posisi bunda di hati
ayah.Mungkin saja kan.Tapi ayah sempat bertanya tentang pendapatku jika ayah
menikah lagi.Awalnya aku tidak setuju,tapi setelah kakakku bicara agar ayah
mendapatkan seseorang yang akan merawatnya saat aku dank kakak yang tak bisa
selalu ada di dekatnya dan juga ternyata keinginan ayah menikah adalah karena
juga permintaan bunda karena aku yang masih kecil.Dan akhirnya aku setuju,tapi
dengan satu syarat bahwa aku tidak ingin wanita itu mempunyai anak. Dulu
sebelum masuk pondok aku dititipkan bersama kakek dan nenek oleh ayah.
Ketika ayah membeli sebuah rumah
baru.Sedang rumah yang dulu telah dijual.Aku selalu merasakan suasana baru yang
sama sekali tidak aku inginkan kehadirannya,mungkin itu karena kehadirannya ibu
tiriku.Aku selalu berbicara bagaimana rasanya satu rumah dengan orang asing
yang tiba-tiba masuk dan langsung menjadi pengganti seseorang yang sangat
berharga adanya dan tak akan bisa digantikan oleh siapapun termasuk wanita
pilihan ayah itu.
Hari
senin.Upacara.Berpanas-panasan.Dan setelahnya akan olahraga,itu adalah sesuatu
yang paling tidak disukai anak perempuan.Dan untung saja hari ini guru olahraga kami sedang tidak
ada dan kami bebas melakukan apa saja di luar kelas tanpa harus repot-repot
berbohong pada guru.Seperti biasanya,anak-anak cowok akan bermain bola.Lalu
kemudian salah satu dari mereka mengajak anan-anak cewek untuk bermain
bola.Saat mendengarnya aku sangat ingin sekali mengucapkan iya karena
jarang-jarang kami diajak bermain bola bersama.Setelah terjadi negoisasi yang
panjang akhirnya kami bertanding juga dan sudah tentu aku akan ikut
bermain,tapi ketika dulu aku akan dengan senang hati menerima tawaranitu tapi
sekarang,aku harus menjaga sikapku untuk bisa lebih baik dari aku yang dulu.
Pertandingan pun dimulai dan tidak
ada aturan untuk sepak bola kali ini.Hanya tidak boleh bermain fisik
saja.Anak-anak cwewek akan berteriak terlebih dahulu baru akan menendang bola
yang entah sudah kemana dan aku akhirnya hanya seperti orang yang sedang
mengawasi mereka bermain bola seperti seorang anak kecil.’Buagh’.
‘’Jihan.Kamu gak papa?’’
Tanya Ayu yang sudah ada di depanku
dan sepertinya aku di uks.Tadi ada seseorang yang mungkin tidak sengaja
menendang ke arahku atau mungkin itu anak perempuan yang salah sasaran.Bisa
jadi sih.
‘’Iya kok aku gak papa.Cuma dikit
pusing aja kok’’
‘’Nih dah ada minuman.Teh anget sama
roti rasa mocca’’
‘’Maksih ya Yu.Kamu baik banget.Pasti
uang jajanmu kurang dong’’
‘’Hah,apaan si.Ini udah ada dari
tadinya kali’’
‘’Terus kalo bukan kamu yang beli
terus sapa dong.tadi siapa yang antar aku kesini?’’
‘’Angga’’
‘’Oh.Mungkin Angga kali yang
beliin’’
‘’Iya.Angga kan naksir sama
Jihan.He he he’’
‘’Apaan si,nggak ah.Cuma temen
biasa’’
‘’Pasti ada rasa saling
sukalah.Keliatan kok’’
Bel istirahat berbunyi.Aku
langsung menuju kantin untuk mengembalikan gelas dan sekaligus menanyakan siapa
yang memesan teh hangat dan rotinya.Dia ibu-ibu baik hati,ramah,dan juga
menyenangkan yang menjaga kantin di sekolahku selama bertahun-tahun.
‘’Bi Eem,nih gelasnya’’
‘’Eh iya neng’’.Katanya sambil
berbalik ke arahku. ‘’Eh.Bukannya neng yang tadi di uks kan?’’
‘’Iya bi’’.Kujawab. ‘’Oh bi.Tadi
siapa yang mesenin ini buat saya bi?’’
‘’Nggak tahu neng’’
‘’Kok bisa gak tau bi?’’
‘’Iya,soalnya tadi orangnya gak
balik badan waktu mesennya neng.Terus juga suaranya pake digede-gedein segala
neng’’
‘’Oh.Ya udah deh bi’.Kataku.’’Oh
bi ,saya pesen dua batagornya sama es tehnya dua bi’’
‘’siap neng’’
Hari itu aku masuk lebih awal dari
biasanya karena ada yang aku lakukan setiap minggunya.Yaitu bersih-bersih kelas
sendirian lagi karena hari ini Ayu baru bangun saat aku menjemputnya di
kamarnya.Aku masuk ke kelas dan melihat sudah ada Angga di sana sedang menulis
sesuatu.
‘’Assalamualaikum Angga’’.Dia
menoleh.
‘’Eh.Waalaikumsalam’’
‘’Lagi ngerjain tugas dari bu Anis
yah?’’
‘’Iya nih Je.Sibuk si akunya.Ha ha
ha’’
‘’Boleh aku bantuin?’’
‘’Bener nih.Boleh deh’’
‘’Asal kamu juga bantuin aku’’
‘’Apaan?’’
‘’Sapuin lantai.Belum pernah tuh
aku liat kamu bersiin kelas’’
‘’Idih.Aku tuh selalu datang awal
banget tahu kalo piket’’
‘’Masa?’’
‘’Iya kok.Lagian kan aku gak satu
piket ma kamu jadi kamunya gak tau’’
‘’Masa.Coba tolong liat satu kali
lagi jadwalnya’’
Angga langsung bangkit dari
duduknya dan mencari namanya.Memang gak pernah nih anak kayaknya lihat jadwal
piket sendiri.
‘’Bagaimana hasilnya.Memuaskan?’’
‘’E-eh jangan marah dong Je.Kita kan
temen dari kecil masa iya mau marahan kayak anak kecil sih?’’
‘’Siapa juga yang mau marahan.Aku
Cuma mau kamu piket hari ini’’
‘’Tapi kan, aku ada pr Je’’
‘’Kan pr mu aku yang
bantuin dan kamu juga bantuin aku hari ini’’
Dia sudah tidak bisa
melawan lagi kali ini.Aku menyalin pr Angga dari bukuku dan dia harus mau
menyapu lantainya walau hanya hari ini saja itu cukup karena aku tahu kenapa
Angga selalu datang hampir pada jam bel masuk.Dia juga harus mengurusi
perusahaan ayahnya yang sudah agak tua dan dialah anak satu-satunya dan itu
pasti memakan banyak watu dan tenaga.Itu sebabnya dia selalu saja hampir
terlambat.
***
Hari ini adalah hari di mana semua
anak-anak yang lain libur sedangkan kami yang kelas tiga melakukan ujian
terakhir.UNBK.Tapi tenang saja,setelah ini kami akan bebas dari tugas-tugas
sekolah yang sudah kenyang kami lakukan.
Karena komputer di sekolah kami
tidak sebanyak murid kami yang sampai seratus ini.Jadi ada pembagian ronde
dalam UNBK ini dan kebetulan aku di ronde pertama dan bisa pulang secepatnya
dan yang lain ada ronde dua,tiga,dan empat.Dalam masa-masa aku sedang
mengerjakan UNBK bahasa indonesia sangat berdebar dan sebisa mungkin aku harus
meneliti supaya aku yakin bahwa itu adalah jawaban yang aku pilih dengan mantap
begitu juga dengan mata pelajaran yang lain.Setelah keluar dari ruangan biasanya
kami akan merasa tentram karena sudah mengerjakan ulangan tersebut hari ini
dengan sukses walau pun entah benar semua atau malah mungkin salah semua.Selama
ini aku sudah belajar semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan kakak dan
ayahku,dan aku hanya bisa pasrah setelah yang aku lakukan ini.Dan setiap kali
aku akan keluar gerbang sekolah pasti akan mendapatkan Angga di sana sedang di
dalam mobilnya atau mungkin juga sedang menunggu mobilnya datang dan akan menyapaku
lalu berkata.
‘’Semangat yah buat ujian
besok.Nanti malem jangan lupa belajar bareng’’
Maksudnya belajar bareng adalah di
jam yang sama kami akan belajar dan tapi tempat yang berbeda.
Setelah hari-hari mendebarkan di
sekolah yang kami lalui dengan kebersamaan yang bagus dan mengahadapi berbagai
praktek dan ujian-ujian yang lainnya sampai selesai.Aku dan anak-anak yang lain
ada niatan untuk merayakan dan mensyukuri hari yang telah lama kami tunggu
ini.Aku dan anak-anak asrama harus izin telebih dahulu dan untung saja
Arif.Yang selalu jadi orang yang dapat dipercaya.Mau berbicara tentang hal ini
dengan abi dan esoknya kami akan berangkat.
Kami semua dipesankan mobil
picp-up.Satu untuk santriah dan satu lagi untuk santriwan.Kami hanya tinggal
duduk manis dan dibawa kemana Angga akan mengajak kami ke tempat yang sudah dia
siapkan.
‘’Ini pasti akan menjadi momen yang
sangat berharga di suatu hari nanti’’
‘’pasti lah.Angga tuh emang bener-bener
baik dan dermawan banget ya.Kayaknya dia bakal bener-bener jadi kuliah di luar
negeri deh’’
‘’Apa.Angga mau ke luar negeri?’’
‘’Iya.Kabar ini udah viral lho’’
‘’Eh Je,emang bener apa Angga mau
ke luar negeri?’’
‘’Iya.Dia akan kuliah di Amrik dan
ambil jurusan perbisnisan katanya’’
‘’Waduh,terus kamu bakal kesepian
dong Je?’’
‘’Iya.Kamu sama dia kan sahabatan
yang kayak perangko.Ha ha ha’’
‘’Ha ha ha’’
‘’Udah ah.Jangan diomongin terus.Nanti
jangan-jangan Jejenya malah nangis lagi.He he he’’
Relai Ayu ang sudah memahami aku
dan begitu juga sebaliknya.Tapi apa yang dikatakan Rissa ada benarnya
juga,bagaimana jika benar aku akan menangisinya saat nanti dirinya sudah pergi
jauh di sana dan bagaimana aku akan mempertahankan hubungan persahabatan ini
yang sudah ada sejak lama.Tapi aku tidak boleh berlaru-larut memikirkan hal ini
karena belum tentu ini akan terjadi.
‘’Udah jangan dipikirin sekarang.Nanti
aja di kamar kalau yang lain dah pada tidur’’
Aku hanya tersenyum samar.Aku
kembali menyibukan diri dengan bercerita bagaimana keadaan kami masing-masing
saat ada di ruang ujian saat itu dan mungkin aku merasa yang paling beruntung
karena dari semua anak pondok yang perempuan hanya aku yang pulanganya paling
cepat.
Tak beberapa lama kemudian kami
sudah sampai di tempat yang sudah disiapkan Angga.Tempatnya indah dan dekat
dengan persawahan dan tempat makanynya pun terbuat dari bambu,jadi terlihat
menyatu dengan alam. Kami semua turun dari pick-up dan segera mencari Angga yang ternyata sudah lebih dulu
menghampiri kami .Angga terlihat berbeda dengan pakaian bebasnya.Kami semua di
bawa masuk dan sudah ada pelayan yang menyambut kedatangan kami, sedangkan di
jalan sudah terdapat banyak anak-anak yang hadir. Ada yang saling bercerita,
ada yang mengambil gambar,dan ada yang menguploadnya ke sosial media.
‘’Hei,sini-sini gabung’’
‘’Woy. Udah pada datang aja nih?’’
‘’Ya iya lah vroh.Nanti diabisin
lagi sama kalian kalo datengnya telatan dikit aja’’
‘’Ha ha ha ha’’
Kami sudah duduk pada tempatnya
masing-masing.Karena mejanya tidak cukup maka kami terbagi menjadi dua kelompok.Kelompok
anak-anak cewek dan kelompok anak-anak cowok.Makanan datang satu demi satu dan kami sudah tidak sabar
ingin melahapnya jika saja Arif tidak menahan untuk terlebih dahulu membaca
do’a agar semua yang selama ini kami perjuangkan bersama tidak sia-sia dan
setelahnya kami bisa menyantap makanan yang jarang kami,para anak
asrama,rasakan di tiap harinya dengan menu makan yang seadanya.Kami yang anak
cewek makan sambil bercerita tentang kami yang di asrama dan mereka yang di
luar.
‘’Jangan terlalu semangat cerita.Nanti
keselek tau rasa lo.Ha ha ha’’
Anak-anak cowok dari sana menyerang
dan kami balas dengan serangan yang lebih lagi hingga akhirnya suara deheman
Arif memecah tawa.
Setelah semua makana habis tanpa
sisa Angga bercerita tentang kepergiannya yang ke Amerika untuk meneruskan
studynya di sana selama empat tahun lamanya.Aku hanya bisa diam dan ingin
berkata apa-apa meski sebenarnya aku ingin bilang.
‘’Jangan pergi’’
‘’Apa Je?’’
‘’Hah,iya apa?’’
‘’Tadi lo ngomong apa Jeong?’’
‘’Gak kok’’
‘’Heh.Apaan si lo Jeong-Jeong gitu
manggilnya.Orang lagi sedih juga’’
‘’Tapi tadi aku denger kamu bilang
sesuatu lo Jihan’’
‘’bilang apa?’’
‘’Jangan pergi deh kayaknya’’
Alamak.Ternyata itu bukan hanya
suara batinku tapi juga ternyata kuucapkan.Aku menoleh pada Ayu yang juga sama
sedang menatapku seperti yang lainnya dan itu membuatku kikuk.
‘’Salah denger kali lo Elis’’
‘’Ih.Tapi gue juga denger kok’’
‘’Idih,pada apa-apaan si nih
cewek-cewek?’’
‘’Iya.Aku bilang gitu kok’’
Semua terdiam dan juga
Angga.Semuanya sudah terlanjur jika aku berbohong,tapi untuk apa aku berbohong
jika tidak ingin ditinggalkan sahabat yang selalu ada untukku.
‘’Jangan pergi lama-lama dengan
kembali tanpa hasil yang memuaskan.Eum’’
Kataku dengan senyum yang dibuat
sealami mungkin.Dan semuanya terasa lega karena aku sudah mengeluarkan apa yang
menjadi bebanku dari tadi dan sepertinya anak-anak yang lain juga tidak salah
menafsirkan bahwa aku dan Angga ini sabahabat sejak kecil dan sulit jika akan
berpisah,apalagi sejauh seperti sekarang ini.Mereka semua memberikan semangat
dan dukungan untukku yang akan ditinggal pergi dan untuk Angga yang akan melanjutkan
studynya.
Hari itu pun tiba.Aku minta izin
pada abi untuk mengantar kepergian Angga dan untung saja abi sangat baik hati
dan pengertian sekali asalkan jangan sampai melewati jam satu siang.Aku pergi
dengan Ayu menggunakan angkutan umum dan ketika di jalan,aku masih khawatir
bahwa aku akan tertinggal untuk melihat penerbangan Angga. Aku berdo’a pada
Tuhanku untuk menunda kepergian Angga dan saat aku tiba di bandara ternyata
Angga masih ada bersama orangtuanya sedang menunggu chek-in dan terlihat sedang
bercakap dengan seorang wanita seumurnya.Sesaat aku sempat ragu untuk
menghampiri mereka tapi Ayu bilang.
‘’Masa mau pulang lagi sebelum
nyampein apa-apa?’’
Dan akhirnya aku memberanikan diri
untuk mendekati mereka.Saat mereka sadar ada yang mendekati,mereka berpaling
menatapku dan percakapan pun terhenti.Orangtua Angga sudah mengenaliku dengan
baik,tapi wanita ini siapa.Dia menatapku dan Ayu lekat.Angga tersenyum saat
melihatku lalu segera menghampiriku dan aku langsung mencium tangan orangtua
Angga begitu juga dengan Ayu.
‘’Kenalkan.Saya Amel.Sepupu jauhnya
Angga’’
‘’Saya Jihan.Temannya Angga’’
‘’Lebih tepatnya teman
dekat.Bahkan sangat dekat’’
Katanya dengan senyum penuh
kepercayaan diri yang mantap.Aku hanya bisa tersenyum samar,sedangkan kedua
orangtuanya tersenyum penuh kehangatan dan juga Amel yang sepertinya tidak memeiliki
tatapan permusuhan padaku.Aku terus merasa berat hati merelakan Angga yang akan
pergi jauh dan lama seperti ini untuk pertama kalinya.
‘’Hati-hati ya di sini.Harus bisa
jaga diri dari cowok-cowok brengsek’’
‘’Hati-hati juga iman kamu di
sana.Harus jaga diri dari wanita penggoda yang tak beriman di sana’’
‘’Kayaknya pertemanan kalian ini
lebih dari pertemanan biasa’’
‘’Iya.Makasih,Amel’’
‘’Nanti kalau ada waktu luang aku
akan beri kabar aku dari sana.Dan kamu juga harus’’
‘’Iya.Insyaalloh,kalau ada waktunya
dan alatnya juga’’
‘’Iya udah.gak papa,aku akan tunggu
kok’’
Angga berangakat dan aku kembali
dengan perasaan yang sangat berat.Lebih dari yang tadi.Perasaan yang belum
pernah kualami sebelum ini,perasaan yang sering diceritakan teman-teman ketika
ditinggal oleh kekasihnya.Apa mungkin.Pertama aku ditinggal pergi oleh
bunda,dansekarang.Aku juga ditinggal oleh sahabatku sendiri,meski pun aku masih
memiliki banyak teman-teman yang juga sayang padaku dan juga aku padanya.
Hari-hariku terasa sangat berbeda
semenjak kepergian Angga tapi aku tetap berusaha untuk tidak memperlihatkannya
pada yang lain.Sekarang aku melanjutkan study di Universitas ITB.Jurusan
desainer .Aku sudah sering melihat
contoh-contoh dari google dan banyak mempelajari artikelnya juga.Aku bermimpi
mempunyai sebuah butik hasil rancanganku sendiri dan mengajak masyarakat untuk
menutup auratnya dengan baju yang tidak terlalu mencolok tapi nyaman dan pantas
digunakan pada acara penting sekali pun.Aku dengan semangat mempelajari semua
yang dosen berikan padaku sebagai mahasiswanya.Ayahku juga terkadang
mengontrolku lewat teman-teman dosennya dan tidak sungkan untuk bilang.
‘’Hukum atau beri pelajaran yang
bagus untuk anak gadis saya yang satu ini’’
Setiap hari tak pernah ada waktu
untuk bersantai apalagi membuang-buang waktu.Aku masih di pondok sebagai ma’had
a’li dan keamanan pondok sekarang.Semua kulakukan semata-mata lillah dan untuk
menyibukan diriku agar aku tidak merasa kosong di bagian otakku hingga itu bisa
menjadi celah untuk memasukan lagi kenangan akan Angga yang pergi menghilang
tanpa kabar dan juga tentang bunda yang sudah tidak bisa aku harapkan apapun
darinya.Tapi Angga,dia masih hidup dan tak pernah memeberi kabar apapun kecuali
tiga tahun lalu saat sebuah surat dari Amerika datang padaku yang isinya
selambar fotonya juga tempatnya tinggal dilengkapi surat yang menjelaskan
keadaannya di sana juga dengan alamat tempat tinggalnya.Sempat terpikir olehku
untuk nekat menyusulnya ke sana.Tapi aku tahu bahwa itu salah dan berarti aku
egois.Ini hampir empat tahun lamanya dan aku juga hampir selesai kuliah dan
setelah lulus aku harus sudah menemukan jodoh yang cocok untukku,jika tidak aku
akan dijodohkan dngan seseorang yang ayah pilihkan untukku.Tapi aku belum
pernah bertemu dengan pria pilihan ayah.
Nurul.Temanku yang juga masih ada di
pondok denganku telah menikah dengan kak Fahri dan mereka sudah memiliki satu
anak yan sangat lucu bernama Arisma Fauzani Mudzofar.Dia tinggal di rumah yang
besebelahan dengan abi yang sengaja dibuat agar mereka berdua dapat mengurusi
pondok ini.
‘’Hai.Kenapa Jihan?’’
‘’Gak kok.Cuma agak pusing aja
banyak pekerjaan.Istirahat sebentar juga paling sembuh’’
‘’Makannya cepat temukan jodohmu
Jihan.Insyalloh kau akan dimudahkan dengan dirimu yang
sekarang’’.Jelasnya.’’Kau sudah berubah,sudah dewasa,pintar cantik,perancang
busana walau hanya kecil-kecilan karena kau belum lulus.Jika sudah lulus pun
kau akan mendapatkan apa yang kau ma.Bahkan sekarang kau sudah berniqob sesuai
keinginan terbesarmu Jihan.Apa lagi yang kau tunggu?’’
‘’Entah’’
Ya.Aku memang sudah berniqob
sekarang.Dibaiat oleh abi_satu bulan setelah kelulusan_beserta keluarganya juga
keluargaku yang diharuskan kemari juga di hadapan para santri dan saat itu juga
aku berniqob dengan bantuan dan dorongan orang-orang yang ada di pondok.
Entah apalagi yang kuinginkan
setelah semuanya hampir kucapai sebentar lagi dan tinggal menghitung bulan.
“Kamu masih menanti Angga?’’
Aku tidak langsung menjawab.Hanya
terdiam,mencari arti kata makna itu di hatiku beberapa saat,dan sepertinya aku
belum menemukan jawabannya sekarang.
‘’Aku tidak tahu jawaban apa yang
pantas untuk itu.Nurul’’
‘’Bagaimana jika kau sholat
istikharah dulu.Biar bang Fahri yang menemanimu?’’
‘’Insyaalloh.Aku mau’’
‘’Nanti aku akan bicara dengan
bang Fahri.Assalamualaikum’’
‘’Waalaikumsalam’’
Nurul pergi.Tapi meninggalkan
sebuah harapan baru dengan menanyakan sebuah rasa yang aku sendiri belum tahu
apa artinya dan juga dengan menawarkan sholat istikhoroh dengan bang Fahri.Aku
dibuat dilema malam ini.Tanganku memang terus mengetik tugas juga dengan otakku
yang terus memikirkan pada materi apa yang akan kubuat untuk kujadikan
skripsi,tapi batinku terus saja menyimpan perkataan tadi siang antara aku dan
Nurul.Aku memutuskan untuk mengambil air wudhu dan melakukan sholat
malam.Karena tadi aku sempat tertidur di depan laptopku yang masih menyala di
kantor pondok.Aku bermunajat kepada Alloh di kantor malam itu agar dibebaskan
dari segala macam pikiran yang mengangguku untuk kosentransi pada tugasku,dan
setelahnya aku membaca sedikit ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mulai lagi
mengerjakan tugasku malam itu dan Alhamdulillah akhirnya selesai.
Setiap harinya aku datang ke kampus
dengan bangkutan umum dan kali ini aku diantar oleh abi di dalam mobilnya dan
yang menyupirinya adalah bang Fahri.Aku tidak merasa ada yang aneh karena
pikiranku sendiri sedang kacau.Saat di perjalanan kami sempat bicara.
‘’Kamu hari ini ada acc skripsi
kan?’’
‘’Iya abi’’
‘’Kamu sudah berapa kali acc?’’
‘’Sudah tiga kali dengan ini bang
Fahri’’
‘’Semoga kali ini berhasil’’
‘’Amin.Terima kasih abi’’
‘’Jika kamu berhasil dan mendapat
ip yang tinggi abi akan beri hadiah’’
‘’Hadiah untuk apa abi?’’
‘’Hanya hadiah saja.Karena Jihan
sudah mengabdi selama ini tanpa mengeluh’’
‘’Iya abi.Terima kasih kembali
atas didikan dan kasih sayang kelurga abi pada saya’’
Kami sampai di kampusku.Aku duduk
di kelasku,mengecek ulang dan mempelajari lagi apa-apa saja yang akan aku
sampaikan nanti di depan dosenku yang juga sam perempuan sepertiku dan dia juga
seorang muslimah yang taat.Bisa jadi aku terinspirasi darinya dan karenanya.Aku
menuju kantin karena dosenku belum juga datang dan aku tidak ada kelas lagi
karena para dosen hari ini mendadak berhalangan sebagian.Saat aku menuju kantin
ada seseorang yang memanggilku dan memintaku untuk menemui ayahku.Aku memang
setiap hari bisa saja bertemu dengan ayah jika aku mau,tapi aku tahu ayah juga
sama sibuknya dengan para dosen lain.
Aku menuju ruangan ayah.Aku duduk
di hadapan ayah.Ayah tidak langsung berbicara melainkan menatapku sangat dalam.Bahkan
lebih dalam dari yang biasanya.
‘’Ayah.Kenapa?’’
‘’Kamu sudah ada calon yang baik
untukmu’’
Aku tidak menjawab dan
ayah pasti sudah tahu apa jawabannya.
‘’Jika masih belum ada
juga.Berarti kamu harus mau pilihan ayah.Kali ini ayah sungguh-sungguh’’
‘’ Iya ayah.Aku pasrah sekarang’’
Ayah tersenyum.Aku pamit pada
ayah dan mencium tangannya lalu meminta restu hari ini untuk acc
skripsi.Setelah keluar dari ruangan ayah aku dicari seseorang untuk menemui
dosen yang akan meng-acc skripsiku hari ini.Aku masuk ke ruangan yang sudah
tidak asing lagi bagiku tapi lain untuk hari ini.Rasanya suasananya sangat
mendebarkan dan aku meminta pada Tuhanku agar menenangkan hatiku yang
gelisah.Aku melangkah dengan mantap menuju meja dosen tersebut dan duduk di
hadapannya.Dia menatapku.Dosen Aisyah.Itu namanya,dia cantik dan ramah,tapi
berbeda saat sedang menjadi dosen yang sedang mengajar.Dia mulai bertanya-tanya
tentang semua yang kutulis di dalam selembar kertas yang bertumpuk dan
alhamdulillah aku dapat menjawabnya semuanya dengan mantap dan jelas.Berbeda
dengan hari sebelumnya aku yang kurang percaya diri saat menjawabnya.
Dosen itu berdiri setelah
bertanya-tanya dan aku pun berdiri untuk menghargainya.Wajahnya selalu datar
saat memutuskan sesuatu hinngga membuat semua yang menungu keputusan darinya
akan bedebar-debar.Dia tiba-tiba tersenyum penuh kemenangan.Aku kaget.
‘’Selamat’’.Katanya.’’Kamu lulus
kali ini.Jihan.Semua jawabanmu mantap dan tanpa keraguan sedkit pun’’
‘’Iya.terima kasih dosen atas kerja
samanya selama ini’’
Kami berjabat tangan.Aku sangat
senang karena akhirnya aku berhasil mendapat semua yang kuharap,kecuali satu
yang belum dan mungkin tak akan.
Aku langsung kembali ke asrama
dengan wajah berseri-seri dan saat seseorang bertanya aku kenapa aku pulang
sangat cepat dari biasanya aku hanya menjawab seperlunya.Dan tiba-tiba aku di
panggil oleh Nurul yang katanya abi ingin berbicara denganku dan aku pun
langsung menemuinya.
‘’Assalamualaikum’’
‘’waalaikumsalam.Masuk Jihan’’
Saat aku masuk aku melihat ayah
ada di san bersama dengan ibu tiriku dan juga ada umi di sana.
‘’Orangtuamu akan membawamu
pulang setelah kau lulus nanti’’
Aku sangat terkejut dengan
keputusan ayah yang sangat mendadak ini.Tidak biasanya ayah seperti ini
padaku.Dan aku hanya mengangguk paham dan menerimanya.Setelah itu ayah
menjelaskan ciri-ciri pria pilihan ayah itu di depan semuanya.Dari ciri-ciri
yang ditunjukan ayah pasti dia orang yang terpelajar dan kaya raya juga baik
hati lagi tampan.Tapi intuk apa semua itu jika dia tak memiliki iman yang kokoh
juga tak ada perasaan apa-apa aku padanya,bukankah itu akan jadi bumerang dalam
rumah tangga.
***
Hari ini adalah hari di mana aku
akan dipertemukan dengan calon tunanganku,kami menunggunya di pondokku agar abi
dan umi tahu siapa calonku.Kami menunggu kedatangan tamu tersebut di depan
gerbang.Ketika seseorang memasuki gerbang pintu dengan berlari dan memakai
setelan jas hitam yang serasi dengan warna yang kukenakan, aku sedikit agak
mengenali wajahnya,tapi dia memakai kacamata hitam sehingga susah untuk
dikenali.Saat dia membuka kacamatanya rasanya jantungku seperti akan
meledak.Aku berusaha sekeras batu untuk tidak meledakan
kekesalanku,kehampaanku,dan keraguanku tentang perasaan yang ku tak
mengerti.Tapi sepertinya aku mulai mengerti apa perasaan yang kualami selama
ini dengan kehadiran Angga di depanku sekarang.
‘’Angga,,,’’
Aku menyebut namanya dengan sangat
pelan sehingga hampir tak terdengar selain ayahku yang berada di sampingku.Dan
nama itu yang ternyata selama ini mampu membuat ganjalan besar dalam hatiku.Dan
aku juga tak tahu apa maksud kedatangannya sekarang setelah aku akan dijodohkan
oleh ayahku.
‘’Assalamualaikum’’.Ucapnya.’’Maaf
terlambat’’
‘’Waalaikumsalam’’
Mereka menjawab kecuali aku yang
hanya mampu menjawabnya dalam hati.
‘’Ayo jawab salam calon
suamimu.Jihan’’
Aku,aku sangat,sangat-sangat
terkejut.Rasanya seperti ada sesuatu yang berusaha keluar dari dalam tubuhku
dan ingin sekali melihatnya secara langsung.Aku masih tetap diam tak
bersuara.Bagaimana aku dapat langsung mengerti semua kejadian ini tanpa ada
penjelasan dari siapa pun.Ayah atau pun abi.Aku menunduk,tak mampu menatapnya
lebih lama lagi.
‘’Jihan’’.Kali ini abi.’’Menjawab
salam itu wajib.Apalaga untuk calon suamimu’’
‘’Waalaikumsalam’’.Aku menoleh pada
abi.’’Bukankah abi akan memberiku hadiah?’’
‘’Ya.Dan ini hadiahnya’’
Kami semua masuk ke dalam ruang
tamu rumah abi dengan tatapan para santriah yang entah apa dalam pikiran mereka.Tapi
aku sempat melihat Ayu yang sekarang telah memiliki tunangan,tapi dia tetap
masih bertahan menemaniku hanya saja Ayu tak berniat untuk berkuliah.Dan dia
tersenyum bahagia padaku.Sebenarnya aku bahagia ketika mengetahui orang yang akan
menjadi imamku adalah Angga lalu beberapa saat kemudian orangtua Angga datang
bersama mobil Angga yang dibawa oleh seorang tukang bengkel karena mogok dan
kemudian bersalaman dengan kami.
Mereka menceritakan semua secara
rinci kenapa ini bisa terjadi.Awalnya Angga berniat datang ke Indonesia setelah
dua tahun berada di Amerika dan akan melamarku secara langsung.Katanya dia
selalu saja teringat padaku jika ada sesuatu yang bersangkutan dengan
diriku.Seperti roti rasa mocca.
‘’Jadi kamu yang kasih aku roti dan
teh anget itu dulu?’’
‘’Iya.Tapi aku diam’’
‘’Kenapa?’’
‘’Agar aku memiliki ingatan tentang
sesuatu yang kamu tak tahu dan akan kuceritakan di hari seperti ini.Dan agar
kamu tau bahwa aku selalu siap untukmu.Cukup?’’
‘’Iya.Terimakasih’’
Bahkan dia sudah memberi tahu
pada keluargaku,abi dan keluarganya yang semuanya dilarang Angga untuk bicara
padaku tentang rencananya ini.Tapi Angga berubah pikiran,teringat sebuah kata
yang aku ucapkan dulu saat acara makan-makan bersama jika dirinya jangan
kembali tanpa keberhasilan.Saat itu juga dia mengabari semuanya untuk datang
setelah dirinya berhasil mendapatkan semua impiannya dan akan berusaha untuk
tetap memberi kabar sedangkan aku tak pernah diberi kabar agar Angga tahu
apakah aku juga mencintainnya dengan memberikan ujian selama empat tahun ini
tanpa diberi kabar.
‘’Itu sangat menyiksa’’
‘’Hanya dengan itu aku
mengetahuinya juga berikut pembuktiaanya.Tapi jika aku melamarmu waktu itu dan
ternyata kau sudah mempunyai pasangan,aku akan bersedih dan berusaha
menghilangkanmu dari hatiku’’
Angga juga selalu menanyakan
kabarku dan semua tentangku pada ayahku dan bahkan hingga umi dan abi.Oernah
saat ada seseorang yang katanya menyukaiku,Angga sempat hampir menyerah.Tapi
karena dukungan dari semuanya,dia tetap maju dan juga sepertinya aku tidak
merespon pria itu.Begitu menurut abi.Dan sebenarnya Nurul dan kak Fahri pun
mengetahui tentang hal ini,tapi mereka semua sama.Menutupinya dariku dan juga
terus memberi informasi tentangku pada Angga.Saat ini kak Fahri dan Nurul ada
bersama kami setelah selesai memberi tahu semua santriah dan santriwan untuk
menghadiri acara tunanganku dengan Angga.Angga juga melakukan semacam pengajian
islami yang ada di kawasan terpencil yang ada di Amerika dengan guru yang
seorang mualaf yang pernah singgah di Madinah untuk melakukan penelitian tetapi
malah tertarik pada agama islam yang menurutnya suci sejak pertama kali berada
di sana. Dan sudah diyakini kedalamannya tentang agama islam.Terkadang Angga
sampai harus menginap berhari-hari hanya untuk belajar banyak darinya tentang
islam karena tempatnya yang lumayan jauh.
Setelah selesai bercerita kami
semua keluar dan menuju halaman yang sudah penuh dengan para santriwan yang
jarang melihat asarama putri jika tidak ada kepentingan.Suara yang tadinya
gaduh mendadak sunyi saat melihat kami keluar.Di depan kami sudah berjajar tim
hadroh perempuan yang akan mengawali acara ini dengan alunan sholawatnya yang
merdu dan lihai,karena memang pondokku mengadakan ekskul ini sejak dulu.Mereka
mulai memainkan hadrohnya dan kami semua duduk menggunakan alas yang kami bawa
masing-masing dan juga para santri.Kemudian acara dimulai dengan mengalir
begitu saja tanpa susunan acara dan mereka yang hadir pun khidmat tidak seperti
biasanya yang selalu gaduh keculi sedang mengantuk dan mengaji dengan
abi,hingga akhirnya sorak-sorai bergembira pun berbunyi kembali ketika sesi
tanya-menanya sudah selesai.Mungkin kami semua yang ada di sini berbahagia atas
kebahagiaanku.Itu menurutku,jika tidak mungkin aku salah.
Satu bulan kemudian kami
menikah.Dengan semua yang sudah dipersiapkan baik oleh umi dan abi lalu
keluargaku juga keluarga Angga.Kami hanya ditanyai setuju atau tidak setuju dan
memilih serta mengukur ukuran gaun pengantin.Selama itu aku dan Angga tidak
bertemu jika tidak di bawa keluarganya ketika mengurusi hal-hal pernikahanku
dengannya.Dan juga tidak saling berkomunikasi jika tidak bertemu.Aku sudah
keluar dari pesantren tapi masih tetap mengajar di sana,mengisi waktu luangku.
Semua yang kukenal kuundang.Dan
reaksi anak-anak yang pernah satu sekolah denganku sulit mempercayai hal ini.Baik
dalam media sosial atau pun berupa undangan dan para santri yang membantu
perlengkapan acara agar berlangsung sempurna.Aku meminta acara ijab qobul
dilakukan di masjid yang berada di antara asrama putra dan putri dan tidak
perlu ada pesta.Semuanya berlangsung sedeanrhana tapi mengesankan.Bagiku.
Aku sudah lengkap sekarang.Lengkap
dengan kehadirannya dan kebahagiaan semuanya karena pernikahan ini. Aku
benar-benar bahagia.Aku benar-benar hidup dalam kelengkapan.Hanya tinggal
menunggu sesosok manusia baru muncul dalam diri dan hidup kami semua.Bahkan
setela lulus kuliah aku mendapat tawaran berbisnis dengan sala satu pemilik
butik terkenal untuk menjadi desainer muslimah barunya.
Kehampaanku
Keraguanku
Penantianku
Juga penatku
Kini
melebur karenamu
Terganti
sebuah fakta
Bahwa kau sang imamku
Inilah aku yang sudah dengan bersusah payah
merubah dan membenahi diriku yang dulu tidak sebaik sekarang.Bukan maksudku
sombong,tapi aku hanya sedang membuktikan bahwa aku juga bisa lebih baik dari
diriku yang kemarin dan sebelumnya.inilah aku yang sekarang tak perlu bersusah
payah untuk mengingat bagaimana kenanganku dulu supaya bisa menceritakannya
suatu saat nanti pada putri atau juga putra kecilku.
PERUBAHAN ITU SENDIRI ADALAH DORONGAN KUAT DARI HATI
DAN
HIJRAH
IS BEAUTIFUL
Komentar
Posting Komentar